ADAB KEPADA ORANG AHLI ILMU

PRAKATA

            Ketahuilah, bahwasanya penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu yang diinginkannya kecuali dengan memuliakan ilmu. Dan diantara memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan guru, dikatakan dalam sebuah sya’ir :

Aku melihat hak yang paling tinggi adalah haknya pengajar.

Dan menjaganya adalah kewajiban bagi tiap muslim.

Sungguh sangat berhak baginya diberi hadiah sebagai penghormatan.

Dengan seribu dirham tiap satu huruf yang dia ajarkan.

GURU ADALAH BAPAKMU DALAM AGAMA

            Burhanul Islam Az Zarnuujiy berkata : “Barangsiapa yang mengajarimu satu huruf dari apa yang engkau butuhkan untuk agamamu, maka ia adalah bapakmu dalam diin/agama.

            Dahulu Syaikh Al Imam sadiduddin Asy Syiiroziy mengatakan : “dahulu para masyaikh mengatakan : barangsiapa yang ingin anaknya menjadi seorang ‘alim atau yang berilmu maka hendaknya ia memperhatikan para fuqoha yang kurang dikenal, memulikan mereka, memberi makan mereka dan memberikan mereka hadiah, jikalau dengan itu anaknya tidak menjadi seorang yang alim, insyaAllah cucunya akan menjadi ‘alim”

MEMULIAKAN SANG GURU

            Diantara bentuk memuliakan mereka adalah :

  • tidak berjalan di depannya sehingga dapat mengganggu

hendaknya seorang murid apabila di dalam majelis tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu gurunya, apabila ingin izin keluar dari majelis hendaknya ia menunggu saat yang tepat, atau jika ia telat hendaknya masuk dengan tenang dan mencari jalur yang kemungkinan mengganggu guru kecil.

  • tidak menempati tempat duduknya

termasuk adab adalah tidak menempati tempat duduknya, bahkan jika bisa sebelum majelis ia membersihkan dan merapikan tempat duduk sang guru agar lebih nyaman.

  • tidak memulai percakapan di majelisnya kecuali dengan izinnya

hal ini sudah jelas, yaitu mendahulukan sang guru, atau orang yang memiliki majlis untuk memulai percakapan, pembicaraan, atau diskusi.

  • tidak banyak bicara ketika bersamanya dan memperhatikan waktu

bertanya kepada guru boleh saja jika diberi kesempatan, namun sang murid hendaknya dapat meringkas pertanyaannya sehingga lebih mudah dipahami dan tidak memerlukan banyak waktu untuk menjelaskan, dan hendaknya murid juga tidak memperpanjang diskusi apabila waktunya tidak tepat seperti waktu majelis sudah hampir habis, atau materi masih banyak yang perlu disampaikan, dan lainnya.

  • tidak mengetuk pintunya tapi sabar menunggu hingga ia keluar

inilah yang dilakukan oleh para salafush sholih zaman dulu, apabila mereka berkunjung ke Rumah gurunya mereka benar-benar memperhatikan waktu dan kondisi gurunya, bahkan Sebagian salaf tidak mengetuk Rumah gurunya, dan memilih menunggu di depan rumahnya hingga sang guru keluar. Kita pun bisa demikian, dengan mimilih waktu berkunjung yang berdekatan dengan waktu sholat, sehingga kita menunggu sang guru keluar untuk pergi ke masjid

  • sabar menghadapi sang guru

tidak semua guru memiliki tabiat yang lembut, para ulama salaf pun juga ada yang memiliki tabiat keras. Sang penuntut ilmu harus sabar, dan menganggap hal itu sebagai ujian tersendiri baginya dalam mencari ilmu.

Referensi : kitab ta’lim al muta’allim Toriq At ta’allum, Burhanul Islam Az Zarnujiy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu
Send via WhatsApp